Menikmati Keindahan Arsitektur dan Hasil Revitalisasi Kota Tua Semarang

0
28
<pre><pre>Menikmati Keindahan Arsitektur dan Hasil Revitalisasi Kota Tua Semarang

Keindahan arsitektur yang beragam dari Kota Semarang Lama dan sebelumnya dikenal sebagai Little Netherland.

SEMARANG, businesswisata.co.id : Di pusat pusat kota Semarang ada daerah Kota Tua, seluas sekitar 31 Ha. lalu dikenal sebagai Oudestad, warisan peninggalan kolonial Belanda, bersejarah selama lebih dari 2 abad sebagai pusat perdagangan di abad ke-19 dan ke-20.

Di daerah ini banyak bangunan dibangun kantor-kantor berbagai perusahaan dagang Belanda, diperkirakan sebanyak 50 buah, termasuk yang masih berdiri kokoh, terutama gedung-gedung kantor yang masih digunakan sampai sekarang. Bangunan-bangunan berada dalam gaya Kolonial, Art Deco, Renaissance, Baroque dan Semarangan yang sangat menarik.

Bersyukur, banyak pecinta sejarah ingin melestarikan peninggalan sejarah, terutama Hendrar Prihadi, sekarang melayani sebagai Walikota Semarang, sebagai pelopor utama yang bertekad untuk mereformasi Kota Tua Semarang.

Direkam tepat pada 8 November 2012, bertepatan dengan Hari Tata Ruang Dunia (Hartaru), ia berjanji dengan menandatangani Piagam Komitmen Kota Warisan Budaya. Sejak itu ia telah bertekad untuk serius mereformasi Kota Tua Semarang. Badan Pengelolaan Wilayah Kota Lama (BPK2L) dibentuk, dan mendorong semua pihak untuk memprioritaskan revitalisasi kota lama sebagai bagian dari pelestarian budaya Indonesia dan dunia.

Dengan dana untuk mengatasi masalah rob dan banjir di kota Semarang, sistem drainase Sungai Semarang telah diperbaiki sehingga pada tahun 2013 bisa diatasi. Itu juga mulai mengatur Taman Garuda dan Taman Gunting Sri.

Pada tahun 2014, pemerintah daerah Semarang membeli sebuah rumah tua, yang sebelumnya dikenal sebagai bangunan Oudetrap yang menghadap area Revitalisasi kota tua Semarang, adalah peninggalan kolonial Belanda. Tahun demi tahun pembenahan dilakukan dengan revitalisasi, meskipun masih jauh dari selesai, tetapi belakangan mulai terlihat menarik lagi seperti kota tua Belanda.

Gunting Taman Sri, digunakan sebagai perintis dalam merenovasi kota tua, memprovokasi masyarakat untuk membantu merenovasi bangunan di sekitarnya. Tahun demi tahun, upaya kerja revitalisasi terus berjalan bahkan di bulan Maret 2016 BPK2L direformasi.

Masukkan anggota baru pemilik bangunan lama, sehingga pelestarian Kota Tua diharapkan berjalan lebih cepat.

Sejak 2011, setiap tahun festival Kota Semarang diadakan selama 2 – 3 hari, menarik minat masyarakat luas. Di 2019, berlangsung pada 12-22 September 2019, meskipun belum semua daerah direvitalisasi sepenuhnya, Kota Tua Semarang telah menarik wisatawan untuk datang.

Beberapa bangunan telah direnovasi, tersedia jalur pejalan kaki dengan jalur khusus untuk tunanetra yang tertata rapi, dilengkapi banyak lalu lintas kerucut sebagai penghalang ke jalan raya yang dilapisi dengan batu alam, lampu penerangan jalan yang terpasang, membuat area Kota Tua terasa nyaman dan tidak lagi kumuh.

Beberapa benda telah berhasil direvitalisasi, sementara gedung kantor lama masih berfungsi dan telah direnovasi dengan indah, membuat Kawasan Kota Tua berhasil dilestarikan, tampak kembali sebagai kota Era semarang kuno, sebelumnya dikenal sebagai Belanda kecil.

Tur Kota Tua Semarang

Dari jalan utama di kota Semarang, yaitu Jl. Pemuda, sebelumnya bernama Bodjongweg ada Kantor Pos Besar, dan di taman sebaliknya adalah Semarang Zero Kilometer. Saya melakukan City Walk dengan berjalan kaki ke arah timur di sepanjang wilayah Kota Tua Semarang.

Penulis beristirahat sejenak di tengah tur jalan kaki Kota Tua Semarang.

Berjalan sekitar 100 meter ada jembatan melintasi Sungai Semarang, dulu jembatan itu disebut Gouvernementsbrug, karena warga setempat kesulitan mengucapkan pengucapan Brug, dikenal sebagai Jembatan Berok, bahkan disebut sebagai Jembatan Mberok.

Dulunya jembatan itu merupakan satu-satunya jalan masuk ke kawasan Kota Tua Semarang, yang dikenal dengan nama Jembatan Oudestat. Dahulu jembatan ini dibangun pada tahun 1705, dalam bentuk jembatan gantung, lantai jembatan tergantung pada 4 pilar ditunjuk agar kapal bisa melewati Sungai Semarang.

Namun sekarang jembatan telah menjadi jembatan permanen, bahkan telah diperlebar oleh jalur kedua. Di atas Jembatan Berok itu muncul di sisi lain, seperti Kantor tua Riverside, dipagari dengan bangunan kantor bergaya kolonial, di sepanjang Jl. Mpu Tantular, sebelumnya disebut Westenwal Straat, karena kawasan Kota Tua dikelilingi oleh benteng bersisi lima yang disebut Benteng Vijfhoek.

Sekarang benteng itu hilang, dihancurkan pada tahun 1824 dan di sepanjang Jl. Mpu Tantular ke arah utara masih terlihat menarik berjejer gedung-gedung tua kantor Bank Mandiri, PT Phapros, PT Pelni, GKBI dan lainnya.

Dari persimpangan terus wisata jalan kaki di sebelah timur, adalah jalan utama di kawasan Kota Tua, yaitu Jl. Letnan Jenderal Suprapto, sebelumnya bernama Herenstraat. Ada bangunan mencolok Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) "Immanuel", dibangun pada 1753 Segi Delapan. Bangunan tinggi delapan sisi yang beratap kubah merah besar, sehingga gereja itu dijuluki Gereja Blenduk, menjadi ikon kota Semarang.

Di depan gereja di sisi timur ada taman kota Sri Gunting.Taman ini disebut Parade Plein, itu biasa untuk membuat podium bagi warga negara Belanda untuk menonton parade tentara Belanda Herenstraat. Di sisi utara taman adalah Gedung Oudetrap yang telah direnovasi.

Dinamai seperti itu karena di depan sisi kanan gedung ada oudetrap, Yang merupakan tangga besi tua berputar yang disitaTunggu saja untuk naik. Sekarang bangunan tersebut digunakan sebagai pusat informasi, ruang pameran dan lainnya.

Masih di belakang Gereja Blenduk, di dekat Taman Garuda terdapat bekas bangunan gudang milik PT. Perusahaan perdagangandonesia (PT PPI). Sekarang, setelah direnovasi, digunakan sebagai Galeri Industri Kecil dan Menengah (IKM) atau Galeri Industri Keatif dan sebagian untuk mengakomodasi pedagang kaki lima dari pedagang barang antik, yang tergabung dalam Padangrani Circle of Friends, yang biasa berjualan di trotoar Taman Sri Gunting.

Kembali ke jalan utama Jl. Letjen Suprapto ada banyak bangunan megah yang telah direvitalisasi, termasuk bekas gedung kantor Javasche Bank, yang pernah digunakan sebagai kantor telepon, sekarang menjadi Galeri Kreatif Semarang.

Di gedung itu juga ada galeri UMKM, menjual barang-barang kerajinan lokal dan berbagai warung makanan dan minuman, sehingga pengunjung dapat membeli barang langsung dari pengrajin atau produsen, dan makan dan minum disana.

Bekas gedung Kantor Pengadilan Pemerintah Kolonial Belanda, Raad van Justitus, sebuah bangunan khas model Belanda, pernah digunakan sebagai rumah pelayanan para imam Gereja Immanuel, pada tahun 2006 berubah menjadi restoran mewah khas ikan bakar.

Gedung Marba, yang terletak pada sudut, tercatat telah dibangun pada pertengahan abad ke-19 dengan arsitektur neo-klasik yang terlihat megah, dikatakan milik seorang pria. Pedagang kaya Yaman bernama Marta Banjenet, bangunan itu ditulis Marba. Dulunya digunakan sebagai kantor EMKL dan dulu juga digunakan sebagai toko Belanda yang sangat mewah de Zeikel, hingga sekarang bangunannya terlihat indah dan kokoh.

Gedung Spiegel, juga terletak di sudut, meskipun pada tahun 1895 bangunan bergaya Spanyol yang megah digunakan oleh perusahaan perdagangan Winkel Maatschappy H.Spiegel, menjual barang-barang tekstil mewah.

Kawasan Kota Tua, Gereja Blenduk, gedung tua PT PLN, Gunting Jiwasraya dan Taman Sri.

Tetapi bangunan itu rusak parah, tidak terawat, tetapi sekarang telah direvitalisasi dan digunakan sebagai bar & bistro. Di lantai paling atas ada balkon kecil, dari mana para tamu dapat melihat ke arah jembatan Berok dan lainnya.

Gedung Jiwasraya, sebuah bangunan 3 lantai, dibangun dengan arsitektur Art Deco pada tahun 1916, dirancang oleh Arsitek Ir. Thomas Karsten, sebelumnya untuk kantor Nederlandsch Indische Levenverzekering de Lijfrente (NILLMIJ).

Ini adalah bangunan megah dan juga digunakan sebagai kantor Walikota. Itu adalah bangunan pertama di Semarang yang dilengkapi dengan lift lift. Sejak 1994 kantor ini telah menjadi Kantor Jiwasraya dan tetap megah.

Bekas gedung Van Dorp, sebelumnya percetakan terbesar di Semarang, N.V. Drukkerij G.C.T. Van Dorp & Co, sekarang berubah menjadi Mimpi Museum Zone, pengunjung yang tertarik dapat mengambil foto dengan berbagai impian.

Ratusan foto seni dua dimensi tersedia dengan Seni Trik dapat dibuat menjadi foto 3 dimensi, dengan berbagai tema latar belakang dari berbagai lokasi di dunia. Sementara di Jl. Cendrawasih ada sebuah bangunan tua bernama Statschouwburg, Gedung Komedi Kota Semaberdering sebagai tempat hiburan bagi orang Belanda.

Sekarang disebut Marabunta dan digunakan sebagai bangunan serbaguna. Yang menarik adalah bahwa pintu dan jendela mosaik bangunan masih terpelihara dan di sisi atas dan kiri bangunan terdapat patung semut merah besar. Bangunan itu disebut Marabunta yang pernah digunakan sebagai kantor Marabunta EMKL, Yayasan Keluarga Diponegoro dan lainnya.

Di ujung utara Jl. Cendrawasih, yang terletak di depan Stasiun Kereta Tawang terdapat Tawang Polder, untuk memperbaiki sistem drainase, sebuah waduk kecil sekitar 1 Ha dibangun, dilengkapi dengan tang.gul, pintu air, pompa air untuk mengatasi masalah banjir pasang surut di kota Semarang.

Polder ini juga merupakan fasilitas wisata air bagi warga Semarang. Pengunjung ke Kota Tua Area datepuk wisata sejarah dan jalan-jalan santai yang sarat dengan bangunan peninggalan jaman penjajahan Belanda 2 – 3 abad yang lalu, sehingga untuk memahami sejarah jaman penjajahan, juga dipenuhi berbagai fasilitas hiburan dan kuliner, tersedia beragam makanan ringan, makan, minum dan berfoto, semua instagramable Betulkah.

Pekerjaannya belum selesai, meskipun sudah ada banyak revitalisasi. Namun masih ada banyak bangunan-bangunan tua yang belum ditangani tetapi telah menjadi magnet yang menarik banyak wisatawan domestik dan asing untuk datang.

Semoga kawasan Kota Lana Semarang ini dengan penuh antusiasme dapat mencapai impian, segera diakui dan dicatat sebagai Unesco World Heritage atau World Heritage Heritage

* Penulis telah melakukan perjalanan di 176 negara dan pengamat warisan dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here