Menelusuri Jalur Turis Kota Tua Solo.

0
13
<pre><pre>Menelusuri Jalur Turis Kota Tua Solo.

SOLO, business-tourism.co.id: Penuh dengan bangunan cagar budaya, yang merupakan bagian dari jalan utama di pusat kota Solo, yang sekarang diatur sebagai tujuan baru, Rute Wisata Kota Solo.

Menavigasi area seperti menelusuri sejarah 250 tahun yang lalu yang sangat mengasyikkan, terutama berlanjut ke Desa Sudiroprajan, Desa Pecinan terbesar di kota Solo.

Dipandu oleh seorang fotografer, Lies T. yang banyak membantu dan menyelesaikan dokumentasi foto, hari itu kami menjelajahi proyek Pengaturan Jalan Koridor Jenderal Sudirman dari Tugu Pamendangan, yang terletak di depan Balai Kota sampai Bundaran Gladak di Solo, jalan raya utama di pusat kota Solo.

Jalan yang awalnya tertutup aspal diganti dengan batu andesit dan diharapkan menjadi tujuan baru untuk Jalan Wisata Kota Solo. Tentu saja penulis sangat tertarik pada kura-kuraKoridor Suri karena itu ada banyak bangunan dan pusingblok sejarah sekarang diselesaikantepat sebagai cagar budaya.

Benteng Vastenburg

Sebuah benteng kuno warisan kolonial Balanda, dibangun pada 1775 – 1779, atas perintah Gubernur Jenderal Baron van Imfoff.

Dibangun konstruksi batu yang kokoh, persegi dan di empat sudut ada benteng. Ketika Presiden Jokowi adalah Walikota Solo, benteng itu direnovasi dan dicat putih dan sekarang menjadi objek wisata yang menarik.

Searah jarum jam, Kantor Bank Indonesia, Pasar Gede, Tugu Pamandengan dan Gereja Katolik St. Antonius

Istana Kerajaan Surakarta

Istana Surakarta Hadiningrat adalah Istana Perlindungan Surakarta, dibangun oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1745. Salah satu arsiteknya adalah Pangeran Mangkubumi, yang kemudian berjudul Sultan Hamengkubuwana I, bangunan istana ini terlihat sangat eksotis, Sekarang terbuka untuk umum untuk dikunjungi, sangat menarikRik sebagai objek wisata.

Kantor Bank Indonesia

Bangunan tua Bank Indonesia Solo sebelumnya gedung kantor Javasche Bank, dengan arsitektur Neo Klassik Desain menarik yang dirancang oleh Arsitek Hullswit, Fermont & Ed. Cuiper, di 1867. Bank Indonesia Solo sudah memiliki bangunan baru dengan arsitektur modern yang terletak di sisi selatan, sekarang bangunan lama dipertahankan tetapi akan digunakan sebagai museum.

Kantor Balai Kota Solo

Dulunya, bekas Kantor Residen, dan bangunan saat ini adalah Bangunan Balai Kota yang baru dibangun kembali dan diresmikan pada tanggal 23 Desember 2012. Arsitektur tradisional Jawa dalam bentuk bangunan joglo, dengan aula konstruksi kayu, terdapat 18 kolom berukir, di antaranya 4 tiang Sokoguru mendukung atap yang tumpang tindih dan ada lemari di teras depan.

Pada 2012, terjadi keributan di JakartaKawasan kompleks Balai Kota Solo, ditemukan bunker kuno berukuran 15 X 7 m2, peninggalan zaman penjajahan Belanda sehingga menarik orang untuk melihat dan mengetahui asal-usulnya. Sekarang bunker telah dicabutinovasi oleh pemerintah daerah Surakarta, menjadi benda peninggalan sejarah yang menarik.

Gereja Katolik Antonius

Tepat di sisi utara gedung Balai Kota ada Gereja Katolik St. Antonius Purbayan, dengan gaya berkelas tidak direkam saat dibangun. Nanun tentu saja adalah gereja Katolik dari zaman kolonial Belanda.

Sekarang bangunan gereja telah ditetapkan sebagai bangunan warisan yang dilindungi, menarik banyak penggemar termasuk wisatawan domestik dan domestik beribadah di sana.

Monumen Pamandengan

Di depan Balai Kota di tengah jalan ada monumen persegi panjang berbentuk kerucut setinggi tiga meter dan memasang 4 buah lampu lentera kuno, dikenal sebagai Sunan Pemandengan Sri Sunan. Jika dari Bangsal Pagelaran di Istana, kita bisa melihat langsung ke monumen sebagai titik kosmologis kota. Monumen ini juga dikenal sebagai Solo Kilometer Zero Kilometer, juga ditetapkan sebagai Monumen Pilar Cahaya Warisan Nasional Banda.

Searah jarum jam, Pasar Gede dan monumen jam, Kerunaban Surakarta Palace dan Kuil Tien Kok Sie di desa Sudiroprajan, Solo.

Monumen Pasar Gede

Di depan Pasar Gede, di tengah perempatan jalan, Jl. Urip Sumohrdjio, Jl. Suryo Pranoto dan Jl. Ketika ada juga menara jam kuno, itu tampak sederhana, didirikan atas perintah Paku Buwono X, konon dibangun bersama dengan Pilar Cahaya Gladak. Karena usianya maka semua empat jam pada sayaTahanan tidak menunjukkan waktu yang tepat, tetapi juga dicatat sebagai Warisan Budaya Pasar Gede Tugu Jam.

Pasar Gede

Meski berdiri di atas lahan seluas 10,5 Ha. Dulunya merupakan pasar kecil, tetapi pada tahun 1930 diresmikan sebagai pasar besar dan menjadi ikon kota Solo, yang sebelumnya disebut Pasar Gedhe Hardjonagoro.

Pasar ini dirancang oleh Arsitek Ir. Thomas Karsten, penuh gaya perpaduan antara model Belanda dan Jawa, dengan atap besar seperti singgasana. Nama Hardjonagoro adalah nama gelar bangsawan Kanjeng Raden Tumanggung (KRT) yang diberikan kepada seorang keturunan Tionghoa oleh Surakarta Sunan Ingunang Sinuhun Pakubuwono XII Raja.

Bangunan pasar telah mengalami beberapa renovasi, tetapi bentuknya masih dipertahankan seperti sebelumnya. Sekarang pasar, yang dikenal sebagai Pasar Gede, adalah pasar tradisional terbesar dan masih beroperasi dengan baik.

Kuil Tien Kok Sie

Terletak di sisi selatan Pasar Gede ada bangunan Kuil Tien Kok Sie, sebuah rumah ibadah yang dibangun pada tahun 1748 yang dibangun dari kayu yang sangat kokoh. Kuil ini untuk para penyembah untuk menyembah "Tian" yang adalah Dewa dan Dewi Kwan Im, yang dikenal sebagai Dewi Welas Asih.

Sekarang juga disebut Vihara Avolokitesvara. Candi ini dibangun pada 1748, artinya tiga tahun setelah Istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat didirikan pada 1745.

Umumnya di sekitar pusat perdagangan, di situlah Penduduk Cina tinggal, dilengkapi pagoda sebagai rumah ibadah bagi penghuninya. Bangunan Pasar Gede dan Klenteng terletak di desa Sudiroprajan. konon Kampung Sudiroprajan disebut-sebut sebagai Desa Pecinan terbesar di Solo.

Setelah penulis tur sejarah menyusuri Koridor Jalan Sudirman dan melihat begitu banyak situs Warisan Budaya karena waktu yang terbatas, sayangnya saya hanya melihatnya dari luar dan membuat diagram yang menyenangkan.

Kami langsung tertarik untuk terus berjalan di sepanjang Desa Sudiroprajan, ingin melihat Chinatown terbesar di Solo, yang tidak jauh dari Pasar Gede.

Setelah melewati jalan desa merasa kecewa, tidak menemukan apa awalnya berpikir, a Pecinan dengan gedung-gedung tinggi dan megah.

Tepatnya di Chinatown Village adalah kawasan perumahan yang padat bertepatan dengan rumah sederhana di Jakartadihuni oleh penduduk etnis Tionghoa dan Jawa adalah desa pluralissaya, bisa hidup dalam gotong royong dengan nyaman dan aman.

Selama ratusan tahun mereka hidup dalam harmoni berbaur dengan toleransi, ketika ditanya oleh penduduk di sana sejak ketika orang Tionghoa tinggal di desa Sudiroprajan, tidak ada yang tahu pasti, menurut catatansejarah telah terjadi sejak pertengahan abad ke-18, mungkin sekitar tahun 1745, ketika Istana Kasunanan pindah ke Solo.

Mereka hidup bersama tanpa agama, budaya atau ras, bahkan akulturasi antara budaya Cina dan Jawa. Banyak asimilasi terjadi, perkawinan antaretnis, sehingga ada banyak penghuni "kawin silang", berkucoklat hitam menyala, matanya agak sempit dan diberi nama 3 etnis Cina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here